Senin, 06 Januari 2014

Ketabahan Suriah akan Selamatkan Negara-Negara Arab

Krisis Suriah
Mufti Besar Suriah : Ketabahan Suriah akan Selamatkan Negara-Negara Arab

Islam Times-
Mufti besar Ahmad Hassoun Badreddin menegaskan bahwa ketabahan rakyat Suriah menghadapi agresi musuh akan menyelamatkan semua bangsa Arab dari hasutan, kekacauan, konspirasi dan disentigrasi.
Dalam sebuah wawancara TV Al-Manar hari Jumat (5/7/13), Hassoun mengatakan bahwa kemenangan Tentara Suriah disebabkan dukungan rakyat. Dia mencatat bahwa musuh-musuh Suriah mengira kerusuhan Suriah akan membuka jalan untuk membagi Libanon, Yordania dan Arab Saudi. Tapi ketabahan Suriah telah melindungi negara-negara itu.

Grand Mufti itu menegaskan, rakyat Suriah memiliki pilihan akhir dan mereka akan memutuskan siapa yang menjadi pemenang pemilu. Dia juga menekankan, pihak oposisi atau asing tak berhak mengajukan prasyarat tertentu. Menurutnya, masalah hakiki Suriah bukan tentang seorang individu tertentu tapi tentang sebuah bangsa yang akan bertekuk lutut atau tetap berdiri tegak.

Dia menegaskan, sejak awal krisis, Presiden Bashar yakin pada Allah dan yakin bahwa pihak yang benar yang akan menang.

Hassoun mengatakan, warga Suriah telah meminta kelompok bersenjata untuk meletakkan senjata mereka dan menyambut rekonsialisasi serta pengampunan. Dia mencatat, ratusan angggota kelompok bersenjata telah menyerahkan senjata mereka sementara kelompok bersenjata asing mulai melarikan diri. Dia menambahkan, warga Suriah mengundang oposisi untuk kembali ke tanah air dan mengajukan rencana, proyek dan kandidat mereka.

Dia mengatakan, pihak-pihak yang berbicara tentang 'pendudukan' Suriah adalah mereka yang membawa warga asing dari seluruh dunia ke Suriah untuk membunuh dan memenggal warga Suriah serta memakan dagingnya. Merekalah yang meminta AS menyerang dan membombardir Suriah.

Mufti itu mengatakan, musuh-musuh Islam berusaha mengubah krisis Suriah menjadi sebuah proyek ketakutan, terorisme dan kehancuran. Musuh mempekerjakan beberapa warga Muslim untuk mencapai tujuan mereka dan menciptakan perpecahan demi menghancurkan negara -negara Islam.

Dia menunjukkan bahwa hasutan takfiri bukan hal baru bagi dunia Arab karena takfiri selalu muncul untuk melemahkan sebuah bangsa yang tumbuh kuat. Menurutnya, konferensi ulama baru-baru ini di Beirut merupakan mercusuar cahaya dan pertanda yang baik dalam kegelapan. Konfrensi itu berusaha memperingatkan warga dari bahaya yang akan datang, menunjukkan kebenaran, dan menjaga warga dari " teror " saluran berbahaya seperti al-Jazeera dan Al-Arabiya.[IT/S/NAT]

Muslim Sunni dan Syiah Irak Bersatu Melawan Takfiri al-Qaeda


Suku-suku Sunni Irak bergabung dengan tentara dalam perang melawan Takfiri al-Qaeda di provinsi barat al-Anbar.

Menurut laporan Press TV pada Ahad, 05/01/14, para pemimpin suku Sunni mencapai kesepakatan dengan pemerintah Irak untuk membantu tentara mengusir para Takfiri dari kota-kota Fallujah dan Ramadi.

Kerjasama antara kelompok Sunni-Syiah dan pemerintah Irak datang disaat Barat gencar berupaya menghasut perpecahan sektarian di negara itu.

Kota-kota Fallujah dan Ramadi kini menjadi tempat bentrokan mematikan antara pasukan keamanan dan Wahabi yang berafiliasi dengan al-Qaeda.

Pertempuran sengit beberapa hari menewaskan lebih dari 100 orang terutama di dua kota paling bergolak pada Jumat kemarin, kata beberapa pejabat keamanan.

Kekerasan pecah pada tanggal 30 Desember 2013, ketika tentara menghilangkan sebuah kamp protes anti-pemerintah yang menjadi pusat dan markas Takfiri al-Qaeda di Ramadi.

Seorang pejabat keamanan Irak di Anbar mengatakan hari Sabtu, 04/01/14, bahwa pemerintah telah menghancurkan kontrol dua kota di Fallujah dan Ramadi dari tangan al-Qaeda (ISIL). [IT/Onh/Ass]










Pemberontak Bersenjata Suriah Menyerahkan Diri

Lebih dari 250 Pemberontak Bersenjata Suriah Menyerahkan Diri
Senin, 2014 Januari 06

Lebih dari 250 pemberontak bersenjata di wilayah Barza, menyerahkan diri berserta senjatanya kepada pasukan pemerintah Suriah.

Russia Today seperti dikutip Tasnim News (6/1) melaporkan, dalam kelanjutan operasi militer Suriah di wilayah Barza yang sudah dikepung selama lebih dari setahun itu, sekitar 250 pemberontak bersenjata menyerahkan diri kepada pasukan pemerintah.

Para pemberontak itu memutuskan untuk menyerahkan diri setelah dicapai kesepakatan antara kelompok-kelompok bersenjata dengan militer Suriah dengan mediasi Komite Rekonsiliasi Nasional.

Sementara itu, anasir-anasir bersenjata yang berafiliasi ke Free Syrian Army (FSA) bersama pasukan pemerintah Suriah dan pasukan sukarelawan rakyat, bertempur melawan kelompok teroris Front Al Nushra dan Takfiri.







sumber : (IRIB Indonesia/HS)

Harapan Al Qaeda untuk Menang di Suriah Lenyap



Fars News (6/1) melaporkan, dalam pertempuran terbaru yang terjadi antara koalisi militer Irak, polisi dan pasukan Sahwa (kelompok etnis) melawan kelompok-kelompok teroris Al Qaeda di provinsi Al Anbar, militer Irak berhasil membersihkan kota Al Ramadi dan Fallujah dari anasir teroris setelah melakukan pengepungan total.

Dalam operasi itu sejumlah teroris Daulah Islamiyah fi Iraq wa Syam (DIIS) tewas dan beberapa pemimpinnya ditangkap.

Komandan operasi militer Irak dalam aksi pembersihan dan interogasi terhadap sejumlah teroris yang tertangkap menemukan bukti serta informasi akurat tentang kondisi yang dialami kelompok-kelompok teroris.
Informasi itu menyebutkan bahwa kelompok-kelompok teroris Al Qaeda putus asa atas dukungan Barat dan Turki.
Informasi itu juga mengatakan bahwa kelompok-kelompok teroris sangat kecewa dan marah ataspendukung utama mereka yaitu Arab Saudi, para teroris percaya Saudi telah menjerumuskan mereka ke dalam kesulitan yang tidak memiliki jalan keluar. Saat ini para teroris itu sama sekali tidak mempunyai harapan untuk menang.

Sejumlah kota di provinsi Al Anbar masih dikuasai Al Qaeda. Akan tetapi pertempuran dan persaingan di antara kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi ke Al Qaeda seperti Utsman bin Affan dan DIIS terus berlangsung. Semakin sulitnya kondisi di Suriah memaksa mereka lari ke Irak dan kemungkinan meningkatnya krisis di Barat Laut Irak semakin besar.

Vladimir Putin, Presiden Rusia menyebut rezim berkuasa di Saudi sebagai rezim teroris dan sebagian berita mengatakan bahwa Rusia telah menyerahkan sebuah resolusi tentang aktivitas teror Saudi kepada Dewan Keamanan PBB.






sumber : (IRIB Indonesia/HS)

Minggu, 02 Juni 2013

Minoritas Sampang, SANG KAUM TERTINDAS.


Kaum Minoritas SAMPANG

Berita tentang kaum minoritas yang selalu mengalami tindakan yang 
tidak adil masih saja terdengar. Setelah beberapa waktu lalu penganut 
aliran syiah Madura menjadi bulan-bulanan warga kini terdengar kabar 
bahwa sekitar 30 orang jamaah syiah dipaksa untuk menandatangani surat 
pernyataan pindah aliran dari syiah ke sunni.

Menurut data yang kami peroleh warga syiah mendapat tekanan untuk 
berpindah keyakinan bila mereka tidak mengikuti maka rumah mereka 
akan dibakar oleh massa. Kejadian yang menimpa penganut syiah ini sungguh 
sangat disayangkan pemerintah seperti menutup mata terhadap apa yang mereka
rasakan. Pemerintah sendiri sepertinya hanya bungkam bahkan tidak bersuara 
melihat realita yang terjadi di sampang Madura ini.

Pemaksaan berpindah aliran ini menurut kami bukanlah suatu solusi yang 
tepat untuk menyelesaikan konflik agama yang terjadi di Sampang. 
Seharusnya pemerintah lebih mempertimbangkan lagi solusi yang tepat yang 
akan membuat masyarakat merasa aman dan nyaman sehingga kasus 
penyerangan ini tidak  terjadi lagi. Kasus Sampang menunjukkan betapa 
lemahnya  pemerintahan kita sehingga tidak dapat memberikan efek jera 
kepada para pelaku penyerangan. Begitu juga dengan kepolisian yang bertindak 
lamban pelaku penyerangan pun masih bisa berkeliaran.

Dalam kondisi yang sulit ini pemerintah justru bekerjasama dengan beberapa 
tokoh yang anti terhadap toleransi untuk mendesak penganut syiah bahkan 
memberi ancaman kepada mereka. Lantas apakah ini yang dikatakan Negara 
demokrasi yang mana hak-hak setiap penganutnya dijamin di dalam 
undang-Undang Dasar? Seharusnya Presiden sebagai pemegang kendali politik 
dapat memberikan solusi yang tepat dengan tetap memberikan rasa aman 
kepada penganut syiah.


Gubernur Jawa Timur Soekarwo membantah telah terjadinya pemaksaan agar 
masyarakat syiah berpindah keyakinan. Menurutnya yang terjadi hanyalah 
keinginan agar masyarakat syiah dapat bersatu dan menyamakan pandangan 
dengan umat Islam pada umumnya.  

Menurut Andy Irfan Junaidi Relawan untuk pengungsi Syiah pemerintah harus 
memberikan perlindungan yang sama kepada setiap warna negaranya tanpa 
sedikitpun membeda-bedakan antara kaum manyoritas dan minoritas agar 
penindasan terhadap kaum minoritas tidak akan terjadi lagi. Menurutnya 
jalan untuk menyelesaikan konflik ini adalah dengan cara dialog yang adil 
demi terciptanya perdamaian di Sampang.

Ke depan kita semua berharap apapun bentuk penindasan yang dilakukan 
oknum tertentu terhadap kaum minoritas tidak bisa diterima begitu saja. 
Masalah perbedaan yang terjadi memang sudah menjadi suatu keniscayaan 
yang tidak terbantahkan lagi, tinggal bagaimana kita mengartikan perbedaan 
tersebut. Begitu juga sebagai penganut yang manyoritas di negeri ini seharusnya 
bisa merasakan bagaimana jika kita yang menjadi minoritas dan ditindas oleh 
mereka yang manyoritas. kita tidak dapat menafikan keberagaman bangsa kita 

sebagai bangsa yang majemuk yang telah digariskan tuhan kepada kita. 
Kita harus merubah pandangan agar melihat sesuatu yang berbeda itu 
sebagai rahmat dan karunia Tuhan yang diberikan kepada bangsa Indonesia. 
Terimakasih telah berkunjung dan membaca tulisan kami, Semoga menjadi 

renungan kita bersama. Berbeda tapi tetap Satu Jua “Indonesia”.

PUISIku Tuk SAMPANG (kemanusiaan)...

Kami berteriak tetapi tidak ada telinga yang mendengar,
Kami merintih dalam tangisan hingga kehabisan air mata,
Kami berjuang tetapi keutuhan telah disobek-sobek,
Suara kami hanyut ditelan waktu,

Kami terbuang dikampung halaman dan tanah leluhur kami sendiri,
Kami menjadi tak berdaya.
Bebaskan kami untuk kembali merangkul hak-hak kami!!!


...FREE SAMPANG!!!...