Jumat, 18 April 2014

Bandar Dipecat, Arab Saudi Tetap Bernafsu Hancurkan Suriah

Gerakan Takfiri
Bandar Dipecat, Arab Saudi Tetap Bernafsu Hancurkan Suriah

Islam Times-
Diberhentikannya kepala intelijen Saudi dari jabatannya merupakan hasil dari tekanan AS atas sikapnya di Suriah. Namun, itu bukan sinyal dari bergesernya tujuan Riyadh untuk menggulingkan rezim Damaskus, demikian ungkap para pakar.

Riyadh, seperti biasa, tidak merinci pernyataan pekan ini bahwa Pangeran Bandar bin Sultan telah diganti. Rezim Wahhabi itu hanya mengatakan bahwa diplomat veteran tersebut meminta untuk mundur.

Namun, seorang pakar Saudi mengatakan bahwa Washington--yang teriritasi selama beberapa waktu Pangeran Bandar menangangi pemberontakan di Suriah--pada bulan Desember 2013 menuntut pemindahannya.

Pangeran Bandar memimpin upaya Arab Saudi untuk membiayai, mempersenjatai, dan menyatukan para pemberontak Suriah, yang setelah tiga tahun pertempuran masih jauh dari tujuannya untuk menggulingkan pemerintah Presiden Bashar al-Assad.

Upaya kepala mara-mata Saudi itu sangat terhalang oleh keberatan AS terhadap rencana untuk memasok para pemberontak dengan senjata canggih yang bisa berujung pada keseimbangan militer terhadap pasukan Assad, yang semakin mendekati kemenangan akhir.

Dijuluki "Bandar Bush" karena hubungannya yang erat dengan mantan presiden AS George Bush dan anaknya George W. Bush--yang terjalin selama dirinya menjabat duta besar untuk Washington--kerajaan Arab Saudi telah secara terbuka mengritik pemerintah AS saat ini yang dipimpin Partai Demokrat.

Ia melampiaskan kemarahannya di depan diplomat Barat ketika Washington mundur ancamannya untuk melancarkan serangan militer menyusul serangan kimia mematikan pada bulan Agustus 2013 di luar Damaskus, di mana Barat menyalahkan pasukan Assad.

Seorang diplomat mengungkapkan bahwa pada kesempatan itu, Pangeran Bandar dengan gusar mengatakan bahwa Riyadh tidak lagi dianggap Amerika Serikat sebagai sekutu utama dan karenanya kerajaan paling dibenci sedunia itu akan mencari dukungan dari Perancis dan negara-negara lainnya.

Calo kekuasaab paling berpengaruh di Arab Saudi itu dilantik sebagai kepala intelijen pada 2012.

Tugas publik terakhirnya adalah usaha yang gagal pada bulan Desember untuk menekan Presiden Rusia Vladimir Putin agar meninggalkan dukungannya terhadap Assad.

Para pakar menekankan bahwa dukungan Pangeran Bandar terhadap kaum teroris takfiri di Suriah telah meningkatkan ancaman keamanan terhadap kerajaan dari para jihadis Saudi.

"Pendekatan Pangeran Bandar yang agresif terhadap Suriah menyoroti kesenjangan antara harapannya dan intelijen Arab Saudi dengan kemampuan operasional," kata Emile Hokayem, peneliti senior untuk keamanan regional pada International Institute for Strategic Studies.

"Menjalankan usaha luas dan kompleks untuk membantu menurunkan rezim asing yang didukung Iran dan Rusia benar-benar berada di luar kemampuan Riyadh," katanya.

Tujuan Arab Saudi sangat sulit karena "keengganan mitra Barat utamanya dan agenda yang bertentangan dari para pemain regional penting lainnya seperti Turki dan Qatar," tambahnya.

Meskipun pada tahap kelas berat, Arab Saudi telah memasok pemberontak dengan "senjata dan pemberontak," kata Hokayem, itu mau tak mau harus berurusan dengan kelompok-kelompok bersenjata yang "berbahaya dan tidak disiplin".

Pemerintah Damaskus, di sisi lain, menikmati dukungan kuat Iran, yang "dapat mengandalkan proksi dan sekutunya yang terorganisir dan terlatih," seperti gerakan Islam Hizbullah Lebanon, imbuhnya.

Para diplomat mengindikasikan pada bulan Februari bahwa pihak kerajaan telah menarik Pangeran Bandar dari proyek Suriah, dan menugaskannya pada Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayef bin Mohamed, yang dikenal sebagai tangan besi kerajaan dalam perang melawan al-Qaeda.

Tak lama kemudian, Riyadh mengumumkan hukuman berat bagi takfiri Saudi yang berperang di luar negeri, seraya memperingatkan bahwa mereka dapat menghabiskan 20 tahun usianya di balik jeruji besi.

"Menggelembungnya jumlah jihadis Saudi di Suriah--dengan konsekuensi negatif yang mungkin bagi rezim Saudi--dan kemunduran yang diderita di sana memberikan kontribusi terhadap pemikiran ulang, dan pada gilirannya, pergantian di Riyadh," kata Hokayem.

Pemerhati Saudi itu bersikeras bahwa kendati begitu, digantikannya Pangeran Bandar tidak mengubah posisi Saudi terhadap konflik Suriah.

"Tidak ada perubahan. Arab Saudi tetap menginginkan Bashar al-Assad terguling," tegas kolomnis Jamal Khashoggi.

"Tidak ada yang seperti politik Bandar. Kebijakan penguasa serta arahan yang diberikan Raja Abdullah niscaya dilaksanakan kepala intelijen," katanya.

Untuk saat ini, wakil Pangeran Bandar, Yusef al-Idrissi, telah ditunjuk sebagai pejabat sementara [kepala intelijen]. Namun, sumber-sumber Saudi mengatakan bahwa anggota lain dari keluarga kerajaan mungkin akan ditunjuk untuk pos itu. (IT/YL/rj

Senin, 14 April 2014

Peta Perang : Hizbullah & Tentara Kepung Takfiri di Qalamoun

Tuesday 15 April 2014
Berita Suriah Terkini
Peta Perang : Hizbullah & Tentara Kepung Takfiri di Qalamoun

Islam Times-

Tentara Suriah pada Senin, berhasil membebaskan kota al-Sarkha di wilayah strategis di Qalamoun menewaskan lusinan elemen-elemen Takfiri dukungan asing.

Tentara Suriah bersama Hizbullah pada Senin, 14/04/14, merebut kota tersebut dan mengontrol penuh al-Sarkha dari cengkraman Takfiri dan berhasil mengembalikan keamanan dan stabilitas kota tersebut, demikian sumber militer Suriah mengatakan kepada kantor berita resmi SANA, Senin.

Sumber itu juga mengatakan bahwa Tentara Suriah juga mengambil alih wilayah sekitar pegunungan al-Sarkha dan membunuh puluhan elemen-elemen Takfiri.

Kemenangan terbaru ini mengubah peta perang di Qalamoun dan nampaknya strategi baru diterapkan dimana Tentara Suriah berusaha menyerang sisa-sisa Takfiri di wilayah al-Zabadani dan Hawash al-Arab dari arah Timur, sementara Hizbullah bergerak dari Barat dan mengepung Hawash al-Arab dari arah Barat.

Berikut dibawah ini adalah detil peta perang baru di Qalamoun yang dirilis oleh Syrian Perspective pada Selasa, 15/04/14. [IT/Onh/Ass]

Resistensi Militer Lebanon dan Hizbullah Hadapi Arogansi Israel


Resistensi Militer Lebanon dan Hizbullah Hadapi Arogansi Israel
Selasa, 2014 April 15

Rezim Zionis Israel rupanya terus berupaya membalas kekalahan delapan tahun lalu dalam perang 33 hari di Lebanon. Kepala Staf Militer Israel, Benny Gantz menandaskan perang di masa mendatang di Lebanon sangat sulit dan mengerikan.

Benny Gantzmengancam Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah) dengan serangan darat di Beirut. Ia mengungkapkan, manuver darat militer Israel di perbatasan Lebanon adalah langkah penting dan diperlukan. Militer Israel menurutnya akan berusaha keras mencegah kemajuan kemampuan pasukan Hizbullah.

Sheikh Muhammad Rashid Qabbani, mufti besar Lebanon seraya memperingatkan dampak dari perang dan bentrokan bersenjata di negara ini mengatakan, kesepahaman dan interaksi konstruktif berbagai kubu Lebanon akan memperkokoh persatuan serta solidaritas rakyat dan menghapus ancaman rezim Zionis.

Statemen dan peringatan terbaru petinggi Lebanon kian memperkuat asumsi bahwa Rezim Zionis Israel tengah berusaha melakukan petualangan anti Hizbullah di Lebanon setelah perundingan damai dengan Otorita Ramallah gagal. Hal ini tak lain ditempuh Israel untuk mengalihkan opini publik. Khususnya saat ini setelah pemerintahan Tammam Salam yang memulai tugasnya dengan slogan tiga poros "Militer, Rakyat dan Muqawama" membuat petinggi Beirut menyadari kebersamaan militer dan Hizbullah sebagai faktor penting dalam melawan ancaman Tel Aviv.

Amerika Serikat dan Israel dengan memperkuat gerakan pro Barat di dalam negeri Lebanon, tengah berusaha menciptakan kekacauan dan instabilitas di negara ini. Muqawama merupakan solusi tunggal untuk membebaskan sejumlah wilayah Lebanon yang masih diduduki Israel. Wilayah Ladang Shebaa merupakan daerah penting dari wilayah jajahan yang masih menjadi lokasi konspirasi militer Israel terhadap rakyat Lebanon dalam beberapa dekade ini.

Di sisi lain, pelanggaran zona udara oleh jet-jet tempur Israel serta aksi bombardir wilayah perbatasan oleh rezim ilegal ini mengindikasikan upaya Tel Aviv menciptakan instabilitas di Lebanon. Khususnya kini Barat dan Israel gagal menggapai ambisinya dalam perang yang mereka kobarkan di Suriah. Oleh karena itu, mereka ingin mengobarkan perang serupa di wilayah perbatasan Lebanon.

Berbagai peristiwa seperti instabilitas di Tripoli, pengobaran kerusuhan di provinsi utara Lebanon serta operasi teroris beruntun di kawasan utara, selatan dan Beirut adalah gerakan terorganisir untuk merealisaikan tujuan busuk ini. Sementara pemerintahan Tammam Salam memulai kinerjanya dengan penuh kesulitan. Tak hanya itu, pemilu presiden dan parlemen kian menambah sensitifitas kondisi di Lebanon.

Mengingat rangkaian peristiwa dan transformasi di Lebanon saat ini, ancaman petinggi Israel untuk kembali mengobarkan perang di Lebanon meski lebih dicermati sebagai blunder politik, namun juga mencerminkan upaya jahat Israel di wialyah perbatasan Lebanon. (IRIB Indonesia/MF)

Boroujerdi : Intervensi AS-Barat Menyebabkan Penyebaran Terorisme


Boroujerdi : Intervensi AS-Barat Menyebabkan Penyebaran Terorisme
Selasa, 2014 April 15

Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majlis (parlemen) Republik Islam Iran Alaeddin Boroujerdi mengatakan, campur tangan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya telah menyebabkan penyebaran terorisme dan menciptakan krisis di kawasan.

Hal itu disampaikan Boroujerdi dalam pertemuan dengan Ketua Komisi untuk Hubungan Luar Negeri di Dewan Nasional Afrika Selatan Fatima Hajaig, Senin (14/4).

Ia menandaskan, perluasan hubungan parlemen antara Iran dan Afrika Selatan akan memainkan peran penting dalam memperkuat kerja sama bilateral di segala bidang.

Terkait sanksi tidak adil Barat terhadap Iran atas program nuklirnya, Boroujerdi menuturkan, "Tiga dekade setelah sangksi AS dan Barat, Republik Islam Iran mencapai kemajuan diberbagai bidang sains dan teknologi dengan mengandalkan kemampuan dan para ahli dalam negeri."

Sementara itu, Hajaig mengatakan bahwa Iran adalah negara penting di Timur Tengah dan dunia Muslim.

Ia menekankan pentingnya untuk mempromosikan hubungan bilateral antara Afrika Selatan dan Iran.

Ketua Komisi untuk Hubungan Luar Negeri di Dewan Nasional Afrika Selatan itu lebih lanjut mengkritik sanksi sepihak AS dan Barat terhadap bangsa Iran dan menekankan bahwa setiap negara memiliki hak untuk menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai.

Mengenai perkembangan di Timur Tengah, khususnya krisis di Suriahyang disponsori oleh kekuatan-kekuatan asing, Hajaig menuturkan, apa yang disebut sebagai pendukung Hak Asasi Manusia dan demokrasi di dunia adalah akar penyebab instabilitas dan penyebaran terorisme di Timur Tengah dan Afrika Utara.(IRIB Indonesia/RA)

Boroujerdi : Tiga Dekade Sanksi Tidak Menghambat Perkembangan Iran


Boroujerdi : Tiga Dekade Sanksi Tidak Menghambat Perkembangan Iran
Selasa, 2014 April 15

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Republik Islam Iran, Alauddin Boroujerdi menyatakan, penyebaran terorisme dan terjadinya krisis di kawasan adalah dampak dari intervensi Amerika Serikat dan sekutunya.


Hal itu dikemukakan Boroujerdi dalam pertemuan dengan Fatima Hojeij, Ketua Komisi Politik Luar Negeri Parlemen Afrika Selatan dalam pertemuan pada hari Senin (14/4) di Tehran.

Pada pertemuan itu, Boroujerdi menyinggung sanksi zalim Barat terhadap rakyat Iran dan menegaskan, "Meski tiga dekade berlalu sejak sanksi Amerika Serikat dan Barat, Repulik Islam Iran dengan mengandalkan kemampuan nasional dan para ahli dalam negeri, berhasil menggapai banyak keberhasilan di berbagai bidang ilmu pengetahuan."

Di bagian lain pernyataannya, Boroujerdi menyinggung kondisi kawasan dan kegagalan beruntun AS di Irak, Afghanistan dan Suriah seraya menegaskan, "Perluasan terorisme dan berbagai krisis di kawasan adalah dampak dari intervensi Amerika Serikat dan sekutunya."

Boroujerdi menegaskan, "Republik Islam Iran selalu menekankan hubungan persahabatan dengan semua negara dengan asas penghormatan timbal balik, menjaga kepentingan masing-masing dan tanpa intervensi dalam urusan dalam negeri."

Di lain pihak, Fatima Hojeij menyampaikan tekad parlemen dan pemerintah Afrika Selatan untuk memperluas hubungan dengan Republik Islam.

Menurutnya, "Iran adalah negara penting di Timur Tengah dan dunia Islam, serta perluasan hubungan kedua negara memiliki nilai sangat penting."

Di bagian lain pernyataannya, Hojeij mengkritik sanksi unilateral Barat dan AS terhadap Iran dan megnatakan, "Pemanfaatan damai energi nuklir adalah hak setiap bangsa."

Terkait krisis di Timur Tengah khususnya Suriah, Hojeij mengatakan, "Sejumlah negara yang mengklaim sebagai penegak demokrasi di dunia, adalah faktor utama instabilias dan perluasan terorisme di Timur Tengah dan Afrika utara."(IRIB Indonesia/MZ)